Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Mazdondonna duambongi Annaq maullung allo Damoq pettule? Salili-uq motu-uq."
Besok lusa Manakala langit mendung Tak usahlah anda bertanya Itulah pertanda kerinduanku
CERPEN
Hujan di Ujung Desember
SulbarDOTcom - Hujan di Ujung Desember


 Penulis
: AHMAD MAHOYA
 Jumat, 15 Mei 2015 16:15:18  | Dibaca : 2415 kali
 
Sulbar.com - Setelah tahun-tahun berlalu, ternyata hujan yang mengantarkanmu lagi padaku. "Desember, hujan dan kopi. Aku yakin kau masih sangat mengingatnya," bisikku, pelan berat bergetar. Aku tahu kau mendengar ucapanku tapi kau tak bereaksi, seakan kisah itu tidak pernah terjadi. Hari ini kembali kita bersama menikmati hujan, sama seperti dulu saat pertama kali kita bertemu diujung bulan desember. Tapi bagiku hujan dipenghujung desember kali ini lebih deras, lebih kuat dan lebih kejam.

Kuhela nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya dengan sangat cepat berharap hilang segala pedih. Lama kutatap kau yang berdiri membelakangiku diam tak bergerak, kemudian kualihkan pandanganku pada aspal jalan yang seakan bekerjasama dengan hujan menciptakan kabut-kabut kecil, aku menahan gemuruh rasa.

Dulu kita memulai cerita kita diakhir bulan desember. Berawal dari langit yang tiba-tiba menghitam dan gelegar memekak yang entah berada dibagian mana diatas langit melepaskan suaranya. Awan yang semula terpisah kemudian menyatu dan sepakat untuk menjatuhkan bebannya dengan cepat. Saat itu kau dan aku dari arah yang berlawanan tergesah singgah menyelamatkan diri pada satu tempat yang sama, dibawah walasuji yang telah menua termakan waktu. Atapnya yang terbuat dari daun rumbia telah terkikis rapuh meninggalkan celah untuk air langit tetap jatuh di tempat kita berteduh, sementara kendaraan kita biarkan didepan walasuji diam menikmati basah.

Hujan semakin liar tapi tempatku masih menyisahkan ruang sementara kau makin tersudut, tetesan air terus menjamah rambut sebahumu dan bajumu yang berwarna merah. Aku bergeser mundur merapatkan diri pada tiang walasuji dan seakan membaca isyaratku berbagi tempat kau pindah disampingku. Hujan semakin riuh.

Kini kau berdiri hanya sedepah dariku tapi tanpa menghiraukanku, seakan aku tidak pernah ada disana. Pandanganmu sesekali melihat jam tangan berwarna merah dipergelanganmu kemudian kau alihkan menatap langit, mungkin berharap waktu berjalan melambat atau langit segera berhenti menangis.

Ada kecemasan terpancar dari sikapmu yang gelisah. Kita sudah hampir 30 menit bersama dan tak ada sapa, kubakar rokok kretekku sekedar mengusir dingin yang perlahan mulai menjelajah di kulit sembari kuarahkan pandangan pada rumah pemilik walasuji yang tertutup rapat. Sebuah rumah panggung yang tidak terlalu lebar tapi panjang kebelakang, tinggi kakinya kutafsir hanya sekitar satu meter dengan anak tangga yang berjumlah tujuh, pintu rumah tepat berada disudut kiri dengan gaya arsitek khas rumah Sulawesi pada umumnya.

Halamannya juga tidak terlalu luas tapi sangat bersih dan tertatah indah penuh dengan aneka macam bunga. Disudut kanan rumah, pohon mangga berdiri kokoh, batangnya dipenuhi beberapa warna bunga anggrek yang tergantung rapih. Pagar yang mengelilingi halaman hanya seukuran pinggang orang dewasa, terasa sangat asri dan nyaman. Kembali kuhembuskan rokokku keudara tapi kali ini sebagian asapnya berlari kearahmu, kau sekilas menatapku tapi kembali menariknya pada arah semula, mungkin terganggu tapi kau tak mengibaskan tanganmu seperti yang biasa orang lakukan jika tak meyukai asap rokok. Aku seakan tak peduli, rokokku masih diapit jari tengah dan telunjuk.

Hujan masih belum berdamai, kau semakin putus asa. Hembusan nafasmu yang berat dengan suara yang tipis samar terdengar pasrah, kau menunduk kecewa. Sebatang rokok ingin kembali kubakar tapi urung kulakukan, kali ini aku mencoba peduli. Kakimu yang semula berdiri tegak tiba-tiba kau hentakkan, air yang mengalir terpercik kesetiap arah, kau nampak kaget atas lakumu sendiri menatapku dengan rasa bersalah setelah melihat celana jens yang kukenakan basah terkena percikan.

"Maaf", itu suara yang pertama kudengar dari bibirmu yang tipis, aku hanya menjawab dengan senyum tak mempermasalahkan yang barusan terjadi. Kita kembali terdiam.
Sejam berlalu hujan mulai mengurangi derasnya tapi masih tetap membuat pakaian takkan lama bertahan kering jika nekad menerobos tirainya.

"Kalau masih tergesah, kau boleh memakai jas hujan yang ada di bagasi motorku", aku membuka pembicaraan sekedar mengulur simpati. Kau berpaling menatapku.

"Terimakasih, waktunya telah berlalu. Aku tak perluh kesana lagi, setidak-tidaknya aku telah berusaha". katamu seakan telah menemukan alasan untuk tidak disalahkan.

"Aku siap jadi saksimu jika dibutuhkan", ucapku mencoba bersahabat, kau memaksa tersenyum.

"Mau minum", ajakku, sambil jari telunjuk kuarahkan pada sebuah cafe yang tak terlalu jauh di seberang jalan.

"Mau mentraktir wanita yang belum kau kenal", katamu sambil mengkerutkan jidat.

"Tenanglah, aku bukan lelaki penggoda", ucapku meyakinkan. Kau tertawa terbahak, suasana mencair.

Dengan menutupi kepala dengan kedua telapak tangan kau berlari mengikutiku, tak cukup setengah menit kita sampai, motor kita tinggalkan. Kau menepuk nepuk pundak dan baju bagian depanmu sekedar menjatuhkan air hujan yang melekat. Kita lalu memilih duduk di kursi sudut ruangan tepat menghadap kearah jalan. Tak lama pesanan kita datang, dua gelas kopi hitam pekat asli Mamasa seperti yang tertera di kertas menu sekarang tepat berada didepan kita. Awalnya aku tak begitu yakin ketika kau juga ikut memesan kopi tapi dengan nada humor kau membaca keraguanku.

"Aku wanita hitam tak takut minum kopi". Kalimatmu membuatku tersenyum.

Kau kemudian bercerita tentang dirimu yang sedari kecil sudah menyukai kopi bahkan saat kau kini sudah bekerja dibagian pelaporan sebuah perusahan swasta yang terkenal di kota ini, kau semakin tidak bisa lepas dengan kopi.

"Ini sudah kebutuhan, mungkin karna kopi pulalah kulitku bertahan hitam  karna meski jarang kena matahari langsung, aku tetap saja hitam", katamu.

"Ah, kau memang hitam tapi manis, ditambah lesung dikedua pipimu, dagumu juga terbelah. Wajahmu yang oval dengan mata yang sayu adalah perpaduan yang sangat artistik apalagi jika dipandang saat hujan", sanggaku dalam hati, sambil tersenyum.

"Kenapa kau tersenyum sendiri", kalimatmu menarikku dari lamunan tentangmu.

"Kau tak seperti yang aku pikirkan", kataku, membuatmu kembali mengerutkan jidat.

"Ternyata kau ramah tak seperti saat dibawa walasuci", lanjutku membuatmu tertawa lebar, terlihat deretan gigimu yang putih bersih tersusun rapih.

"Kau bukan lelaki menarik untuk ditemani cerita saat hujan", ucapanmu membuatku tersenyum.

"Kecuali kalau sambil minum kopi", lanjutmu, kembali tertawa.

Derai tawamu seakan menenggelamkan sedihmu beberapa menit yang lalu saat di walasuji.

"Anisa, namaku Anisa", kau menyebut nama tanpa melihat kerahku sambil kembali menyeduh kopi hitammu yang membuatnya tinggal separuh.

"Ahmad", aku ikut menyebutkan nama.

Kukeluarkan sebatang rokok kemudian membakarnya.

"Kau tidak terganggu kan?", tanyaku, kuperlihatkan rokok yang telah kubakar.

Kau menggeleng, “sikat saja, aku telah terbiasa hidup dengan para perokok", jawabmu. Kaki kananmu acuh kau angkat diatas kursi, kali ini kau makin terlihat tomboy.

"Maaf, apa yang membuat tadi gelisah", ucapku pelan, mencoba membuatmu tidak terusik dengan rasa penasaranku.

"Hari ini pacarku kembali jogja dan dia memaksa aku menemuinya di terminal bis tapi aku alergi dengan dingin, asmaku bisa kambuh jadi tak mungkin aku menerobos hujan", bicaramu kali ini tenang. Aku masih ingin bertanya tapi kutahan, kubiarkan kau menikmati apa yang kau rasakan tanpa terganggu. Tak berselang lama hujan telah selesai, hanya meninggalkan genangan air di aspal jalan yang berlubang. Kita kemudian beranjak kembali kewalasuji lalu berpisah.

Lima bulan berlalu, aku disibukkan dengan berbagai aktifitas kampus. Sebagai staf dibagian kemahasiswaan aku mengatur jadwal berbagai kegiatan kemahasiswaan dan menyita banyak waktu. Aku sudah tak mengingatmu, bagiku kau hanyalah cerita satu episode saat hujan turun. tapi siang itu nada hand phoneku tiba-tiba berdering, satu sms tak terdaftar masuk.

“ Meski kau tetap bukan lelaki menarik walau dimusim kemarau tapi maukah kau minum kopi denganku sore ini ditempat yang sama “. Aku yakin itu sms darimu.

“ Tunggulah jam empat sore wanita hujan “ balasku, ada debar tiba-tiba menyusup kerelung.

Aku tak pernah ke cafe ini setelah hari itu. Dekorasinya telah berubah tapi susunan kursi masih tetap sama. Disudut yang dulu kau duduk tersenyum kearahku, aku hampir tidak mengenalimu, kau sangat berbeda. Rambutmu kini panjang, kau juga semakin manis dengan baju merah lengan panjang yang kau gulung dipadu celana jens hitam serta sepatu cats berwarna merah bergaris hitam. Kau terlihat lebih terlihat berbeda dari pertama kali kita bertemu.

“ Kenapa kau menatapku seperti itu, apa kali ini aku yang terlihat seperti wanita penggoda ? “.

“ Ya, jujur kali ini aku benar tergoda “ jawabku dalam hati. Sambil duduk didepanmu.

“Darimana kau tau nomor HPku “ aku mencoba mencairkan rasaku yang tertahan.

“Orang yang tiap hari bergaul dengan mahasiswa, nomornya tidaklah susah untuk dicari tahu “ jawabmu mengedipkan mata.

Aku tertegun, kau betul-betul telah merampas perhatianku.

“Darimana saja, kenapa tiba-tiba mencariku, apa kau merindukanku “ kucoba mengimbangi candaanmu.

Kita kemudian berbagi bercerita tentang lima bulan terakhir setelah berpisah diujung hujan sore itu. Tak terlalu menarik ceritaku bahkan condong monoton. Aku memang tidak terbiasa menyusun kata dan menjadikannya sebuah alur yang indah tapi kau tetap menjadi pendengar yang baik. Giliran kau kemudian bercerita tentang banyak hal dalam hidupmu, tentang dua bulan setelah pertemuan kita pacarmu memutuskan  hubungan dengan hanya mengirim sms putus tanpa penjelasan. Kau awalnya sangat marah karna merasa tak dianggap. Meski sakit, kau tetap tak ingin mencari jawabnya karna menurutmu kehilangan adalah hal yang pasti datangnya, semua yang ada berasal dari tiada dan yang apa yang kita miliki sekarang perlahan juga akan pergi.

 “Ada misteri dibalik semua peristiwa dan jawabannya akan datang seiring berjalannya waktu tanpa kau harus mencarinya “ katamu terdengar bijak. Sementara tiga bulan terakhir ini kau gunakan menata harimu dengan semakin menyibukkan diri dikantor dan diluar agar cepat melupakannya.

Sore tak lagi hujan, jingga telah melumuri batas cakrawala senja diujung barat, di langit atasku awan putih berarak terang. Hari itu kita tutup dengan saling berjanji untuk sering bertemu.

Waktu kemudian menuntun kita untuk bersatu, rajutan kisah kita semakin teranyam. Hari selanjutnya semakin berwarna, kadang kita kembali ke cafe hanya sekedar minum kopi sambil menikmati rinai hujan. Kita saling percaya, batas jarak bukan halangan bahkan ketika kau mengambil keputusan berhenti bekerja untuk melanjutkan S2 di semarang, kita masih tetap berkomunikasi. Pulang sesekali hanya untuk melepaskan kerinduan pada keluargamu dan juga tentu denganku, tak ada yang aneh semua berjalan seperti yang seharusnya. Tapi masuk tahun ketiga kebersamaan kita, kau tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Aku berusaha mencari tahu keberadaanmu, bertanya pada semua temanmu yang kukenal bahkan sering kutemui keluargamu tapi bukannya jawaban tentang keberadaanmu yang kudapat malah aku diminta untuk melupakanmu tanpa penjelasan, menurut mereka itu atas permintaanmu. Jejakmu mereka hapus tapi aku tetap bertahan mencarimu. Kau dan mereka meninggalkan banyak tanya untukku,

Meski berat, aku akhirnya menerima kenyataan kalau kau tak ingin ditemukan seperti yang pernah kau bilang bahwa jawaban dari sebuah peristiwa dihidup kita akan datang dengan sendirinya tanpa memaksa harus mencari jawabnya. Susahpayah aku berusaha menghilangkanmu dari hidupku, berharap dengan melarutkan diri dengan pekerjaan bayangmu akan terhapus tapi usaha itu tidak terlalu berhasil bahkan sampai detik ini aku masih terus menatah hati dan aku yakin sakit itu tetap berlanjut setelah pertemuan kita hari ini dalam kepungan hujan dipenghujung bulan desember.
Setelah tiga tahun  kau menghilang, akhirnya aku kembali melihatmu. Hari ini, disini, dibawah gempuran hujan tapi kali ini kita tidak berdua. Diantara banyaknya orang yang berteduh di gardu kecil pinggir jalan menyelamatkan diri dari garang hujan. Berjarak hanya satu meter dariku kau masih tetap berdiri membelakangiku tak pernah menoleh sekalipun apalagi memperdulikanku.

Sudah hampir satu jam kita disini dan tetap tak ada sapa, tapi aku percaya pikiran dan hati kita sepakat menelusuri pematang-pematang kenangan. Saat hujan telah redah kau bergegas berbenah. Gadis kecil yang bergelayut manja di lehermu dan  lelaki berseragam guru yang membenahi letak jaketmu telah cukup menjelaskan semua tanya tentangmu selama ini.

Sebelum berlalu dan kembali menghilang sekilas ujung matamu melirikku, kulihat ada genangan disana. Satu persatu yang berteduh mengikutimu pergi sedang aku masih terus berusaha menaklukkan rasaku yang membadai. Perlahan gelap menjamah malam, aku masih belum beranjak.
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : AHMAD MAHOYA

Selain tercatat sebagai staf di salah satu perguruan di Polewali Mandar, dirinya juga secara serius bergiat sebagai pekerja kesenian di Kosaster Siin Unasman

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
    Catatan :
No Ads, No Spam, No Flood please !
Mohon tidak menulis iklan, spamming dan sejenisnya.
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004 ...

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 605,243

web server monitoring service RSS