Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Passambayang mo-oq dai Pallima wattu mo-oq Iyamo tu-uq Pewongan diahera."
Hendaklah anda tegakkan shalat Lima waktu selalu sempurna Sebab itulah bekal abadi Menuju hari kemudian
FEATURE
Teppo Timur Isyarat Laut Bagi Nelayan
SulbarDOTcom - Teppo Timur Isyarat Laut Bagi Nelayan


 Penulis
: MUHAMMAD IRSYAN
 Senin, 18 Mei 2015 01:56:38  | Dibaca : 640 kali
 
Sulbar.com - Fajar pelan beringsut menuju siang. Kehangatan serupa kuas mulai menyapu sepanjang pesisir pantai itu. Hembusan angin laut masih setia. Gemuruh ombak menjadi nada alam khas tanah pesisiran. Pukul 09 pagi, jelang siang. Penanggalan menunjuk Senin Tanggal 18 Mei 2015 langkah kaki para nelayan bergerak dan bergeser menginjak pasir bibir pantai.

Di Pangaliali Kabupaten Majene kesibukan mulai tampak. Seakan menegaskan bahwa sungguh manusia Mandar adalah para pelaut. Sesuap nasi dan penegasan penghambaan pada yang menafkahi kehidupan mestilah tetap dimesrai. Seperti musim kemarau yang sering menjadi isyarat alam bagi para nelayan.

Beberapa perahu nelayan berjejer dan terparkir di bibir pantai. Dindingnya dijilat ombak yang datang bersama angin laut. Potret Teluq Mandar ketika musim kemarau yang dalam istilah para nelayan lebih akrab disebut teppo timur. "Beginilah, keadaan ketika Teppo Timur tiba", ujar Hammaasing salah seorang nelayan yang sempat ditemui SulbarDOTcom.
 
"Kadang tiga sampai empat hari, kami tidak melaut. kebanyakan nelayan takut menembus ombak yang kian membesar dan enggan melawan hembusan angin yang suatu waktu bisa menghempaskan perahu kami," tutur Hammasing dalam nada merendah.

Bagi Hammasing dan para nelayan lainnya, kini enggan melaut. Sampai musim tiba tiba di pertengahan teppo timur atau dalam hitungan almanak akhir bulan Agustus. Sebab bagi mereka besar ombak dan kencangnya hembusan angin di musim ini menjadi salah satu pertimbangan sekaligus isyarat alam lautan tengah melarang mereka turun melaut. Dan sepertinya niat Hammasing untuk melautpun mestilah diurungkan.

Pilihan yang tersisa hanyalah berpindah tempat untuk melaut, mencoba mencari peruntungan dan celah lain untuk menafkahi kehidupan. "Kalau tiba teppo timur, para nelayan kebanyakan meninggalkan kampung halaman dan lebih memilih ke daerah lain untuk melaut. Sebab akan lebih aman melaut diperairan yang dihimpit dan dilindungi gunung atau pulau-pulau kecil. Dan daerah Pillattoang Kecamatan Sendanalah satu-satunya pilihan yang masuk akal dan kami pandang aman", tandas Hammasing sesaat sebelum dirinya kembali bergerak ke arah pantai. Mungkin sekedar memeriksa keadaan atau juga perahunya.
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : MUHAMMAD IRSYAN

Selain aktif sebagai awak redaksi SulbarDOTcom, alumnus Unasman ini juga bergiat di Walhi Sulbar, PMII dan kader GP Ansor Cabang Majene

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 525,667

web server monitoring service RSS