Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Muaq tongano muane Pattandai mo-oq galung Nadiengei Sipettombangan cera."
Bila anda betul pahlawan Tunjukkanlah lokasi dan lapangan Akan di tempati Sama bergelimang di telaga darah
FEATURE
Malam Puncak PRS2, Malam Kemenangan Masyarakat Pambusuang
SulbarDOTcom - Malam Puncak PRS2, Malam Kemenangan Masyarakat Pambusuang


 Penulis
: AMIRUDDIN
 Rabu, 20 Mei 2015 02:41:21  | Dibaca : 497 kali
 
Sulbar.com - Malam itu di Pambusuang, tanggal 19 Mei 2015. Warga tampak menyemut. Adalah malam penutupan Perpustakaan Rakyat Sepekan II (PRS2) menjadi penunjuk betapa tinggi antusiasme masyarakat pada pekan perpustakaan dari warga untuk warga itu. Tak heran, jika beberapa saat sebelum dimulainya acara muda-mudi Pambusuang telah mulai memenuhi lokasi acara dan menempatkan diri di gelaran tikar yang disediakan oleh panitia.

SulbarDOTcom yang hadir melihat dari dekat acara yang diawali dengan lantunan lagu bernuansa Islami oleh grup shalawat santriwan dan santriwati itu, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an. Usai pembacaan ayat suci, Ahmad Napo, Ketua Relawan PRS2 langsung naik ke panggung dengan menyampaikan Pernyataan Resmi penutupan acara.

Dalam pernyataannya disebutkan, amat bersyukur setelah acara yang digelar sepekan penuh itu telah tiba di puncak penutupannya, "malam ini kita berkumpul di momen puncak PRS2, yang selama sepekan lebih ini kita laksanakan dengan suka cita. Malam ini adalah malam kemenangan bagi masyarakat Pambusuang dengan segenap dukungan kawan-kawan dari Polewali Mandar, hingga Majene, bahkan Mamuju dan daerah di luar Sulawesi Barat. Apa yang telah kita capai pada hari ini, bukanlah sebuah kerja-kerja kelompok tertentu. Melainkan adalah sebuah kerja kolektif yang hanya dijembatani oleh anak muda Pambusuang bersama pemerintah desanya", tuturnya.

Menurutnya, kata kunci acara tersebut terletak pada keikhlasan para pendukung acara, "kesabaran dan keikhlasan para pustakawan dan relawan adalah tonggak utama pelaksanaan kegiatan swadaya masyarakat ini. Para donatur yang budiman, juga para sahabat-sahabat yang dengan segenap keikhlasannya turut memberikan dukungan nyatanya. Yang paling penting untuk kita ketahu bersama, kegiatan ini tidak mungkin berlangsung tanpa dukungan dari pemerintah dan aparat desa Pambusuang yang malam ini patut kita banggakan bersama", urainya.

Ia juga menyebutkan, menangani ribuan buku dan menyambut ratusan pengunjung yang datang saban hari selama sepekan, bukanlah yang mudah. Namun pihaknya sangat bersyukur, sebab telah mampu melaksanakannya tanpa kendala yang berarti.

"Dialog yang selama sepekan berturut-turut kita laksanakan, terbukti telah menyita perhatian publik. Tetapi yang paling penting adalah, selain di Pambusuang ini kita telah lama memulai membangun peradaban dari ilmu agama, kita juga telah menancapkan semangat kita pada bagian kisi-kisi kebudayaan untuk menerawang tantangan global yang sudah nyata hadir di hadapan kita. Melalui ini, kami memberikan pernyataan sikap bahwa apa pun bisa kita lakukan hanya dengan kemauan dan dukungan dari segenap unsur. Keinginan untuk terlepas dari belenggu kebodohan telah kita mulai sejak PRS1 di tahun 2013 lalu. Dan hari ini, saat ini, kita telah membuktikan bahwa dengan kemauan, hal yang tidak mungkin, selalu bisa dimungkinkan. Kami mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Desa Pambusuang dan jajarannya, tokoh-tokoh masyarakat, pemuda dan para santri, termasuk remaja masjid Attaqwa Pambusuang, dan masyarakat umum, yang selama ini telah menjadi bagian penting dari kegiatan ini," ujarnya.

Tidak itu saja, Ahmad Napo juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Teater Flamboyant Mandar, dan para aktifis dan penggerak kebudayaan di mana saja berada, yang selama ini turut mendukung pihaknya dalam menyelenggarakan kegiatan PRS2 itu.

Sementara itu, Suradi Yasil, salah seorang budayawan Mandar dalam kesempatan yang sama juga menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para panitia yang telah menggelar acara PRS2.

"Mengamati kejadian yang selama ini terjadi di Pambusuang tidak membuat saya kaget dan heran, kenapa? Karena, jika merujuk pada sejarah, tradisi ini memang sering terjadi beberapa ratus tahun lalu, yakni pembacaan kitab kuning, tradisi ayat yang pertama diturunkan yaitu Iqra (bacalah), membaca kitab, membaca alam dan membaca buku. Maka saya mau mengatakan, tak heran jika di pambusuang ini banyak melahirkan tokoh agama, cendikiawan dan ustadz, dan seiring perkembangan zaman, ini menjadi tradisi kontemporer", ucap Suradi.

Suradi berharap, segala bimbingan masyarakat dan orang tua menjadikan tradisi pengajian, membaca Al-Quran atau dalam halnya membaca semua hal, membuat wawasan kita semakin berkembang melampaui wawasannya sebagai orang tua.

Senada dengan itu, Hamzah Ismail tokoh pendidikan anak usia dini saat diminta panitia untuk memberikan apresiasinya juga menyebutkan, "Nabi yang dalam sejarah sepanjang perjalanannya tak henti-hentinya mendidik manusia. Nabipun mejadi tauladan kita dalam mendidik anak usia dini, konon menurut sejarah yang pernah saya baca bahwa begitu pedulinya kepada anak usia dini, suatu ketika beliau shalat dalam posisi sujud kedua cucunya hasan dan husen kepunggung beliau, lama sekali beliau sujud karena menghindarkan cucunya agar tak jauh ketika dia bangkit dari sujudnya," ujar Hamzah.

Lebih lanjut Hamzah, yang kini juga menjabat sebagai Kepala UPTD Kecamatan Tinambung menyebutkan, "terkait dengan kegiatan PRS2 saya cukup mengapresiasi, bahwa ini menjadi salah satu produk Pambusuang, ini perlu kita syukuri dan di dukung seluas-luasnya. beberapa malam lalu saya mengatakan bahwa ini sebenarnya sebuah gerakan, Anis baswedan selaku Mentri menyatakan bahwa pendidikan semestinya tidak hanya di kelola oleh pemerintah namun juga melibatkan peran rakyat dalam mengurusi pendidikan dan ini sudah terbukti di Pambusuang", tutur Hamzah.

Sekedar diketahui, selain kehadiran Teater Flamboyant Mandar sebagai salah satu penampil malam penutupan itu, Ahmad Napo mewakili segenap panitia, pada segmen terakhir juga kembali menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada segenap pihak yang lalu kemudian dirangkaikan dengan tembang penutup yang berjudul Astagfirullah di nyanyikan sendiri olehnya, sebagai pengantar para penonton meninggalkan lokasi acara.
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : AMIRUDDIN

Selain aktif sebagai awak redaksi SulbarDOTcom, alumnus UNM ini juga banyak aktif dalam dunia kesenian

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 525,622

web server monitoring service RSS