Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Menangi kaccang tunggara Menangi na sumobal Tanda mokau Tuali di lolangan."
Semakin kencang angin tenggara Semakin layar terkembang Suatu pertanda pantang mundur Balik surut dari samudera luas
FEATURE
Alih Fungsi Lahan, Berujung Penyesalan Warga
SulbarDOTcom -  Alih Fungsi Lahan, Berujung Penyesalan Warga


 Senin, 25 Mei 2015 05:31:00  | Dibaca : 609 kali
 
Sulbar.com - Masyarakat Desa Tenggelang Kecamatan Luyo Kabupaten Polewali Mandar akhirnya menelan pil pahit kekecawaan. Menyusul proyek alih fungsi lahan persawahan yang semula diharapkan menuai hasil yang memadai dan mampu menyokong hidup mereka ternyata berakhir miris.

Adalah proyek persawahan yang hendak menyulap sekitar 50 Ha lahan kakao dan kelapa yang semula memberikan hasil baik bagi petani justru belakangan tak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Proyek yang dibiayai oleh pemerintah dan mulai dikerjakan sejak tahun 2010 silam itu, akhirnya membuat masyarakat kecewa. Terbukti hingga kini sebagaimana pengakuan warga tidaklah memberikan dampak apa-apa. Yang ada justru lahan seluas 50 ha itu tidak bisa lagi digunakan untuk menanam kakao.

Taming (47) Kepala Dusun Baro-Baro Desa Tenggelang yang ditemui SulbarDOTcom, 25 Mei siang tadi, menyebutkan, yang membuat proyek alih fungsi lahan kakao menjadi sawah padi itu gagal karena tidak ada pengairan yang dapat mengakses masuk ke lahan persawan itu. "Awalnya kami menaruh harapan banyak, namun selang 5 tahun hingga tahun 2015 kini dampak baik dari niat baik Pemerintah Polewali Mandar untuk membuat sawah di desa ini tak juga membuahkan hasil.

Buktinya sawah yang sudah jadi dan diperkirakan kurang lebih 50 Ha tak kunjung dapat dikelola oleh masyarakat dikarenakan tidak adanya ledeng (irigasi-red) masuk ke wilayah persawahan itu. Logikanya dimana pemerintah lebih dulu membuat sawah namun tak ada air untuk mengelola sawah tersebut ujar", sebut Taming dalam bahasa Mandar seraya tekekeh dalam nada kecewa.

Menurut Taming, berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat setempat. Baik dengan jalan mendiskusikan dengan pihak pemerintah desa dan kecamatan, namun tak pernah ada tindak lanjut hanya berbuah omongan bibir belaka yang tak kunjung ada titik terangnya. "Akhirnya sekarang masyarakat hanya menggunakan lahan kering tersebut untuk menanam tanaman jangka pendek, masyarakat kini hanya dapat menanggung kecewa dan penyesalan yang sangat besar terhadap pemerintah karena dulunya lahan mereka adalah lahan produktif kakao dan kelapa", tandasnya miris.
[ MMR/MRX]
 
 

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 524,207

web server monitoring service RSS