Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Muaq purami di pau Purami di poloa Daq leqba tia Soroq tammappasaqbi"
Bila kita sudah berucap Jika mulut sudah berbincang Jangan sampai mencoba diri Surut menghilang tanpa pamit
CERPEN
Mundurnya Sang Imam
SulbarDOTcom - Mundurnya Sang Imam


 Penulis
: ARAFAT ANDI
 Kamis, 4 Juni 2015 06:51:10  | Dibaca : 1494 kali
 
Sulbar.com - Jumat kali ini begitu berarti. Bagaimana tidak, di akhir shalat imam mesjid kampung kami berdiri menyampaikan beberapa hal seperti Jumat biasanya. Namun kali ini bukan hanya sekedar penyampaian tentang kondisi pembangunan mesjid yang tengah berlangsung dan selalu kekurangan dana, Jumat ini ditambah dengan penyampaian yang telah membuat seluruh jamaah menjadi tertegun.

Di awal Jumat beberapa jamaah yang asyik bercerita berbagai hal meskipun khatib telah naik mimbar kini justru terdiam. Memilih diam, menambah suasana semakin serius. Cerita-cerita mengenai hiruk pikuk kejadian-kejadian nasional dan lokal yang mewarnai dan sering terdengar di tengah khutbah sang khatib, kali ini tenggelam dalam sebuah penyampaian yang begitu khidmat dari sang imam.

Beliau berdiri, kopiah hitam yang ia kenakan nampak memudar di tiap sisi bawahnya, senyumnya mengembang. Tubuhnya yang mulai sepuh tak sejalan dengan suaranya yang tetap penuh semangat. Matanya jauh memandang melewati batas jamaah, menembus dinding bata yang belum diplester, melintasi pekarangan masjid yang tak tertata menampung material bangunan. Pandangan yang begitu jauh dan aku bisa merasakan itu. Dalam penyampaiannya sang imam mesjid kami dengan gamblang menyatakan mengundurkan diri. Selain itu beliau pun tidak akan mencalonkan diri lagi untuk pemilihan imam mesjid kedepan.

Sama kami ketahui bahwa beliau telah memangku jabatan sebagai imam mesjid sudah begitu lama dan selama itu pula konon tidak seorang pun yang bersedia menggantikannya, entah karena apa. Meskipun beberapa tahun yang lalu tersiar kabar ada gerakan dari beberapa warga kampung yang ingin dan bersedia untuk menggantikannya. Dan entah karena apa lagi, imam kampung kami pun tak terganti hingga jumat kali ini.

Alasan yang dikemukakan oleh sang imam dalam pengunduran dirinya yang gamblang itu sangatlah sederhana. Soal kondisi kesehatannya yang mulai menurun. Memang, belakangan ini beliau seringkali kami dapati terlambat datang ke masjid memimpin shalat. Belum lagi mata beliau yang memang telah rabun membuat aktifitasnya agak terhambat dan dokter telah lama menyarankan untuk beliau selalu didampingi. Selama ini beliau dikenal suka jalan sendiri, hanya sebuah sepeda tua miliknya yang biasa menemani beliau beraktifitas.

Hingga di tengah penyampaian sang imam, kondisi sap mulai agak gaduh. Beberapa jamaah saling memandang penuh makna, sebagian menekuk mukanya tanpa berani mengangkat sekalipun. Ada beberapa juga yang terlihat asyik mulutnya komat-kamit dalam Asma Allah namun aku yakin mereka tidak luput mendengar penyampaian sang imam.
Satu dua suara mulai terdengar,

“Jadi, seperti apa?”
“Siapa yang akan menggantikan?”
“Sudah seharusnya seperti itu, itu sangat wajar.”

Saling tengok entah untuk meminta penjelasan ataupun bertanya sesama jamaah akhirnya berlansung. Suasana kembali hening ketika sang imam menutup pidato singkatnya dan mengajak seluruh jamaah untuk berdoa demi penyelesaian pembangunan mesjid dan perlindungan Sang kuasa terhadap seluruh jamaah.
Begitu khidmat doa kali ini. Beberapa jamaah, orang tua dan anak muda yang biasanya bertemu dan bercerita di pos ronda serta tidak tenang dan segera akan beranjak setelah salam di akhir shalat justru tinggal dan ikut berdoa. Tak tahu karena apa.

“Al fatiha!” suara serak dari sang imam penanda sebentar lagi doa akan berakhir

Doa selesai, serentak seluruh telapak tangan mengusap wajah dan mulai bergerak untuk saling menjabat. Dan tanpa komando, jamaah kini melebur dalam diskusi kecil. Pertanyaan-pertanyaan tentang sebab, alasan dan siapa pengganti imam mesjid kedepan mulai menjadi topik

Teringat, sejak setahun yang lalu menurut para warga ketika pembangunan mesjid dicanangkan, pencarian sumbangan demi kelanjutan dan tercapainya cita-cita mesjid yang representatif untuk digunakan beribadah telah memicu kerja keras panitia dan tidak terkecuali sang imam. Di tiap Jumat setelah shalat beliau akan berdiri menyampaikan pencapaian-pencapaian pembangunan mesjid dan tak bosan-bosannya meminta kerelaan para jamaah untuk menyumbang ala kadarnya. Begitulah beliau yang sangat antusias.

Kini selepas Jumat, kami jamaah tersadar, telah terjadi kekosongan pemimpin shalat di mesjid kami tentunya.
Beberapa nama akhirnya mencuat sebagai calon yang diandalkan untuk menduduki posisi imam mesjid. Namun, tidak sedikit pula jamaah yang masih menginginkan sang imam. Persoalan-persoalan kemampuan untuk mengembang jabatan sebagai imam mesjid dirasakan masih belum ada yang mampu. Termasuk pertimbangan demi kelanjutan pembangunan mesjid maka sang imam harus dipertahankan.

“Beliaulah yang lebih banyak mengetahui tentang pembangunan mesjid yang tengah berlansung!  Dan ketika beliau tidak menjadi imam mesjid lagi, secara otomatis akses bahkan pertanggungjawaban penyelesaian serta segala persoalan pembangunan mesjid sudah tidak dapat dibebankan lagi kepada beliau” ujar pak Rahim, pak desa yang sering bersama kami bermain kartu di pos ronda.

Ada sekelompok jamaah yang justru melihat pengunduran diri sang imam adalah sesuatu yang menggembirakan, membuka ruang baru untuk orang baru menduduki jabatan imam mesjid.

“Akan ada nuansa baru, pola baru bahkan semangat baru dalam memakmurkan mesjid”  simpul mereka anak muda yang biasa datang, tepatnya yang selalu kuajak main ke rumah.

Ada pula sekelompok jamaah yang merasa belum ada orang di kampung kami yang pantas dan patut untuk menduduki jabatan imam mesjid.

“Jabatan imam mesjid adalah sesuatu yang membutuhkan kedalaman ilmu dan keikhlasan menjalankannya.” Bantah pak Udin, salah satu panitia pembangunan masjid.

Sebagian lagi jamaah ada yang beranggapan diganti atau tidaknya imam mesjid itu tidak masalah karena ibadah adalah urusan hamba dengan tuhannya. Silang pendapat memenuhi ruang masjid dan jamaah semakin gaduh di siang itu.

Kegaduhan yang tak berujung itu akhirnya memaksa jamaah mulai meninggalkan mesjid. Terlihat jelas setelah kejadian jumat kali ini jamaah mesjid kami terpecah. Berkelompok berdasarkan kesesuaian pendapat, berjalan dan bercakap begitu antusias. Adapula yang berjalan sendiri-sendiri sambil menunduk, kusimpulkan mereka pasti berada pada rasa sangat kehilangan.

Aku sendiri berjalan belakangan, terlintas polemik di kepala tentang kejadian Jumat ini. Sudah tiga bulan sejak kedatanganku kembali ke kampung ini dan mencoba mengakrabkan diri setelah menyelesaikan pendidikan agama di salah satu negara timur tengah

“Adakah hubungan antara pengunduran diri sang imam dengan kondisi pembangunan masjid?” Kepala ini mencoba mengkaji

“Ataukah memang pengunduran diri sang imam adalah murni persoalan kesehatannya yang mulai menurun, mata yang rabun, dan larangan dokter untuk bersepeda?”

“Jangan-jangan pengunduran diri sang imam adalah bentuk keputus-asaan sang imam terhadap keadaan mesjid yang mulai tidak kondusif untuk ikhlas beribadah.”  

Desas-desus tentang anggaran pembangunan mesjid yang tidak tercatat rapi kabarnya memang telah sering dipertanyakan oleh jamaah belakangan ini.

Sampai di depan rumah masih terfikir olehku tentang kejadian Jumat ini. Bagaimana tidak, sejak saat ini kami berarti telah kehilangan seorang imam mesjid yang begitu bersemangat memakmurkan mesjid dan belum ada kepastian siapa yang akan menggantikannya. Hal ini berarti pula bahwa jamaah sejak saat ini akan berada pada ketidakpastian

“Astagfirullah! bukankah ketidakpastian di dalam agama sangat dianjurkan untuk dihindari.”

Sebelum membuka pintu kusempatkan menengok pos ronda disamping rumah kami. Tempat biasa aku dan beberapa warga bermain kartu menghabiskan malam. Bibir ini tersenyum, mengembang. Teringat kembali obrolan dan dorongan warga di pos ronda itu beberapa malam kemarin tentang keinginan mereka untuk saya menjadi imam mesjid.
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : ARAFAT ANDI

Mantan Ketua Teater Kampus Unhas ini, selain dikenal produktif menyutradarai beberapa pertunjukan teater, juga tengah sibuk merampungkan kuliahnya di Program Pasca Sarjana Unhas dan membina komunitas pita merah di Sulawesi Barat

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
    Catatan :
No Ads, No Spam, No Flood please !
Mohon tidak menulis iklan, spamming dan sejenisnya.
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 634,343

web server monitoring service RSS