Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Na tama di Balanipa, maindang kedo puang, naupokedoi naung molimbo limbo"
Saya akan ke Balanipa, meminjam/memeperhatikan tegur sapa yang sopan, gerak langkah yang santun, demi kucontohi, kuikuti untuk menghadiri acara-acara resmi
CERPEN
Surat Ramadan
SulbarDOTcom - Surat Ramadan


 Penulis / Editor : M S TAJUDDIN
 Jumat, 26 Juni 2015 10:01:50  | Dibaca : 1691 kali
 
Sulbar.com - Kali ini tak banyak yang akan aku ceritakan kepadamu tentang ramadan. Setelah ramadan tidak lagi seperti dulu, tatkala kita masih kecil dan sama bermain di kolam tempat wudhu masjid kampung kita itu.

Sudah terlalu banyak yang berubah kini, setelah waktu bergeser dan sama membuat kita tergeser jauh dari jarak juga waktu. Tapi masihkah engkau ingat tentang kolam tempat kita wudhu dan sama menimbah air wudhu dan berebutan masuk ke dalam masjid seusai buka puasa bersama di masjid kampung kita itu.

Juga tentang buka puasa bersama di masjid yang telah menjadi rumah pertama kita menghabiskan waktu dan masa-masa kecil kita dulu. Ya, tentang buka dengan berjejernya ceret yang didalamnya berisi air enau hasil sadapan warga kampung kita yang tangannya kasar dan bahunya kekar memanjati pohon enaunya.

Kali ini tak banyak yang akan aku ceritakan kepadamu tentang ramadan. Setelah ramadan tidak lagi menghadirkan suasana garing bertemuan kita di penjual takjil yang hanya mengandalkan lampu teplok dan pelita serta dan hanya menjajakan takjil kacang sangrai, jagung rebus dan pisang ijo juga kolak gula merah.

Atau tentang perjalanan kita berombongan seperti bebek saat usai shalat subuh berjamaah. Tertawa di jalanan atau sekedar membuntuti perempuan yang kita taksir sambil keliling-keliling kampung. Sebelum akhirnya kita kembali pulang ke masjid untuk kembali menderas alquran yang seakan mengharuskan kita menamat khatamkannya sebelum bulan ramadan berakhir.

Ya itu dulu. Puasa yang sungguh adalah kebahagiaan dan kedamaian juga ketenangan kita yang masih anak-anak. Belajar berpuasa dengan berlarian seraya melihat jam masjid yang telah soak baterainya di jelang sahur dan membuat kita kembali mengambil ember, panci dan kentongan untuk keliling kampung membangunkan warga untuk segera bangun sahur.

Sudah terlalu banyak yang berubah kini, setelah kita hanya bisa dipertemukan di ramadan ini melalui media sosial, kita sama mengomentari status kita yang cenderung ujub dan bahkan sesekali syirik. Kita sama sering memasang status yang sungguh menjauhkan kita dari ketulusan dan keikhlasan kita dalam memaknai ramadan.

Engkau yang ada di kota kini. Sedang aku masih setia berada di kampung kita ini. Kampung kita yang tak banyak berubah pembangunannya. Selain ramaianya trek-trekan balapan liar anak muda yang lupa masuk masjid untuk melaksanakan shalat tarwih bersama. Juga tentang anak-anak seusia kita dulu yang melesatkan mercon dan kembang apinya ke udara. Membuyarkan suara sahdu lantunan lafalan surah pendek Pak Imam mengimami shalat tarwih.

Betul memang, kampung kita tidak banyak berubah. Namun perangai dan perilaku warga kampung yang telah menganggap puasa dan ramadan hanyalah sekedar siklus ibadah tahunan yang terjebak menjadi hanya semacam ritual tanpa makna kini menjadi ihwal lumrah di kampung kita ini.

Ya, aku menulis surat ini kepadamu tatkala aku menyaksikan engkau mengapload fotomu di akun media sosialmu yang berkacamata hitam sedang mengenakan kopiah dan bersorban layaknya ustad keren seperti yang aku tonton di televisi itu. Sering aku iri kepadamu yang bisa menikmati ramadan di kota yang megah dengan berjubel paket diskon yang memenuhi mall tempat belanjaan manusia urban sepertimu.

Sudah terlalu banyak yang berubah kini, tetapi harapku kini tinggal satu, sudihlah kiranya engkau kembali ke kampung kita ini. Tidak harus di awal atau di pertengahan ramadan ini, tetapi setidaknya engkau pulang dihari-hari terakhir puasa. Untuk sama merayakan lebaran di kampung kita ini. Biar kita sama bisa berjalan lagi, mengenangkan ramadan kita dulu.

Sambil menjadwalkan secara serius kunjungan silaturrahmi kepada orang-orang tua yang dulu sering kita kerjain saat membangunkannya untuk sahur. Tentu saja juga menyempatkan kita sama ziarah ke makam-makam tetua kampung kita yang kini tidak lagi bisa merasakan indahnya ramadan yang banyak berubah kali ini.

Sungguh aku berharap itu. Dan surat yang aku tulis ini tidak tahu akan aku kirim lewat apa, sebab kini kantor pos yang dulu sering menjadi satu-satuya jalan bersilaturrahmi jarak jauh melalui kartu ucapan selamat menjalankan ibadah puasa dan kartu ucapan permohonan maaf di lebaran idul fitri tidak lagi banyak digunakan orang.

Apakah aku harus mengirimkannya lewat email, ataukah juga melalui statusku di media sosial agar engkau membacanya dengan khusyuk. Menyerupai khusyuknya Annangguru Pangayi yang kepadanya dulu kita belajar mengaji hingga cakap menghatamkan alquran. Entahlah aku tak tahu. Yang pasti air mataku telah menetes kini dan memburamkan tinta suratku yang di usai buka tadi sengaja aku print out untuk kukirimkan kepadamu.

Dan tahukah engkau sahabatku, bahwa kian kuusahakan terhenti tangisku saat ini, justru kian dalam dan menjadi-jadi ia tumpah. Seakan kembali merasakan dirimu hadir bersamaku kembali ke masa lalu. Saat kita sama ada di dalam masjid menangis dengan khusyuk mendendangkan shalawat kecintaan kita kepada Rasulullah.
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : M S TAJUDDIN

Aktif menulis di SulbarDOTcom

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 546,641

web server monitoring service RSS