Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Bismillah akkeq letteqna Alepuq pelliaqna Turang loana Lailaha Illallah."
Bismillah angkat kakinya Alif langkahnya Tutur katanya Lailaha Illallah
KOLOM
Permen
SulbarDOTcom - Permen


 Penulis
: ABDUL MUTTALIB
 Jumat, 6 November 2015 18:58:07  | Dibaca : 532 kali
 
Sulbar.com - Sebenarnya saya tidak begitu suka melihat iklan di tivi. Terkecuali iklan permen. Iklan permen yang acap menghadirkan wanita cantik dan sering membuat kita lupa merek permen yang diiklankan. Ya, ketika wanita yang diiklan itu membuka pembungkus permen sampai dimasukkan ke mulutnya seolah tengah menggiring mata publik untuk melihat permen dalam perspektif yang lain. Permen yang memiliki daya magis dan ampuh menyihir sistem indra pencecapnya.

Lihatlah, tatkala mata wanita itu merem-melek diikuti pipinya yang kembang kempis tepat ketika ia terus mengemut permen, membuat kita segera menelan ludah. Betapa hebatnya rayuan iklan permen meski, boleh jadi kita justru tidaklah begitu doyan permen.

Entah itu permen olahan industri rumahan, terlebih permen produksi massal yang banyak terjajakan di etalase mini market. Mini market yang kehadirannya bak jamur di musim kemarau tempat kita leluasa memanjakan selera. Minimal untuk sekedar mendapatkan permen. Meski niat awal bukan untuk memborong permen. Akan tetapi setelah kasir memberikan struk pembelian biasanya ikut menyodorkan permen hasil konversi kembalian uang receh.

Permen berjuta rasa. Salah satunya rasa ingin protes ke kasir. Kendati rasa malu berbalut gengsi tak kalah cepat menyerbu. Masak sesudah belanja di tempat sejuk, canggih nan moderen, uang receh kembaliannya ikut diminta! Itu bukan ciri orang moderen, kata batin saya mengejek.

Sesampai di rumah, biasanya hanya bisa terpaku memandang permen yang berceceran di meja. Memandangi permen seraya mencoba mengkalkulasi, tiap hari berapa jumlah uang kembalian yang telah dikonversi menjadi permen di negara ini? Cukup dijawab dalam hati. Sebab yang pasti kehadiran permen itu maknanya telah bergeser. Tidak lagi menjadi sebatas produk, bisa jadi permen itu telah jadi salah satu bahagian dari politisasi dari skenario besar strategi pasar yang terus dikunyah.

Tulisan ini tidak perlu dimaknai anjuran guna menyeret permen untuk jadi bukti ke lembaga perlindungan konsumen. Cukup permen kembali ditempatkan sebagai pemanis obrolan yang dibuat ciptakan memang untuk diemut dengan pemakluman, seraya berdoa agar kelak, permen dapat ditetapkan menjadi alat transaksi alternatif. Higienis, efektif dan dapat dicicipi untuk mengusir kantuk sewaktu antri di depan kasir. Permem yang kita kunyah, pengusir suntuk saat menunggu kembalian dari kasir, yang boleh jadi kembaliannya juga adalah permen.
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : ABDUL MUTTALIB

Selain aktif sebagai awak redaksi SulbarDOTcom, dirinya juga bergiat di Teater Flamboyant

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 525,655

web server monitoring service RSS