Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Takkalai di sobalang Dotai lele ruppu Dadi nalele Tuali di labuang."
Sekali bahtera layar terkembang Karam dan hancur tak kuhiraukan Asal tidak gempar terseriar Balik surut ke pangkalan semula
SOSOK
Tak Hanya di Kota, HIV AIDS Juga Rentan Jangkiti Warga Desa
SulbarDOTcom - Tak Hanya di Kota, HIV AIDS Juga Rentan Jangkiti Warga Desa


 Penulis
: MUHAMMAD ARIF
 Rabu, 2 Desember 2015 04:42:03  | Dibaca : 864 kali
 
Sulbar.com - Setiap Tanggal 1 Desember, merupakan momentum peringatan hari HIV/AIDS sedunia. Biasanya, sejumlah komunitas akan beramai-ramai dengan caranya masing-masing mengkampanyekan tentang bahaya dari virus mematikan itu. Ada yang memilih turun ke jalan melakukan long march  dengan membentangkan spanduk dan berorasi. Pun, ada juga yang  menulis ode di jejaring sosial. Selain itu, adapula yang memilih menggelarnya dalam bentuk forum resmi semisal seminar dan talk show. Apakah itu di ballroom hotel atau aula pertemuan di kampus-kampus.
Dan bertepatan pada hari, Selasa 1 Desember 2015 kemarin, meski terbilang singkat, SulbarDOTcom, berkesempatan untuk bersilaturrahim sembari melakukan wawancara khusus dengan SOSOK yang kini menjadi Sekretaris KPA AIDS Polewali Mandar (Polman), Ahmad Zaki Al Mahdaly ditengah kesibukannya yang padat sebagai penggiat HIV AIDS,  di kediamannya, di Kompleks Perumahan Griya Marwah, Pekkabata Polman.

Perbincangan yang mengarah seputar bagaimana langkah-langkah dan upaya untuk mencegah virus HIV/AIDS agar tidak mewabah di Kabupaten Polman. Dengan suasana yang sangat santai, banyak gagasan dan cara pandang baru yang lahir dalam proses yang terbilang singkat itu.  Seperti apa hasilnya? mari kita simak ulasannya dibawah ini

Kalau boleh tahu, seperti apa  cara pandang Komisi Penanggulangan  HIV/AIDS Polewali Mandar terhadap Virus HIV AIDS itu?
Jadi, Epidemi HIV Aids itu harus didudukkan sebagai sebuah ancaman yang mengancam siapa saja, yang tidak mengenal usia, mengancam kehidupan manusia dan mengancam pembangunan, oleh karena itu perlu keterlibatan semua pihak

Mengapa isu pencegahan Aids menjadi sangat penting untuk dikampanyekan?

Ya, HIV/AIDS  adalah epidemi yang bisa menyerang siapa saja.  Dan AIDS pasti bisa merenggut nyawa manusia. Tapi bukan hanya soal itu, HIV AIDS betul-betul mengganggu sendi kehidupan manusia, yang menyebabkan keterbelakangan, terutama mereka yang sudah masuk dalam kategori ODHA (Orang dengan HIV AIDS (red)), Oleh karena itu kerja-kerja penanggulangan virus ini bukan hanya pada sebatas bagaimana mencegah pada kematian,  tetapi virus yang ada dalam diri manusia proses inkubasinya sangat lama, Nah dalam masa-masa itu mereka yang masuk dalam kategori ODHA akan mengalami kehidupan yang penuh tekanan, cemoohan dan lain sebagainya. Oleh karenanya, perlu keterlibatan semua pihak apalagi berdasarkan data yang kami peroleh, orang-orang yang paling rentan terkena virus ini adalah mereka yang berada pada usia produktif (13-50 tahun) dan bisa berimbas pada tingkat angka kemiskinan dan pengangguran.

Menarik, bisa diperinci lagi?

Bayangkan saja jika orang yang sudah miskin dan ia terinfeksi HIV AIDS, dia akan semakin terkucilkan, seluruh keluarganya akan mengucilkan. Artinya produktifitasnya hilang dan orang-orang disekitarnya akan menjauhi. Sudah miskin secara materi, beban hidupnya akan semakin berat karena akses untuk mendapatkan pekerjaan yang layak akan semakin sulit.

Selama ini kelompok sasaran yang banyak diprioritaskan adalah para Pekerja Seks Komersial (PSK) dan kelompok pelajar dan mahasiswa, apakah ada kelompok lain yang mesti lebih diprioritaskan untuk diidentifikasi?

Jika kita berbicara HIV AIDS, ada tiga langkah-langkah yang akan kita lakukan, yaitu: pencegahan, penanggulangan, dan penanganan. Selama ini yang kita lakukan adalah hanya fokus pada penanggulangan dan penanganan, artinya apa, program-program yang selama ini dilakukan hanya berfokus pada orang-orang yang sudah teridentifikasi dan orang-orang yang beresiko. Seharusnya kita tidak berbicara hanya pada sebatas orang-orang yang terjangkit virus, tetapi bisa spesifik lagi terhadap orang-orang yang paling rentan terinfeksi virus, dan kenapa ia bisa rentan terinfeksi virus. Kalau seperti ini, artinya apa, kita lebih fokus pada pencegahan, dan artinya, lebih dini bisa mencegah agar mereka jauh dari virus berbahaya itu.

Nah, seputar pertanyaan saya tadi, selain PSK dan kelompok pelajar, apakah ada kelompok sasaran lain?

Seperti yang saudara sebutkan tadi, selama ini kita hanya melacak penularan HIV AIDS ditempat-tempat PSK, dengan alasan bahwa sebab tertularnya virus ini adalah karena gonta ganti pasangan dan penggunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya-red) melalui jarum suntik. Tapi kita mesti memahami bahwa ada kelompok-kelompok lain yang juga rawan terinfeksi virus mematikan itu karena problem-problem lain, itu yang perlu dilacak.

Kelompok dan problem apa yang saudara maksud ?

Selama ini identifikasi kita hanya di perkotaan, dimana di kota ada jasa seperti panti pijat dan tempat-tempat karaokean, dimana para hidung belang rutin mendatangi. Pertanyaannya adalah, bagaimana mereka yang jauh dari tempat-tempat itu, terutama mereka yang tinggal di pedesaan. Kita lupa bahwa orang yang paling rentan adalah mereka yang tingkat mobilitasnya paling tinggi, siapa yang sering ke kota, siapa yang ke luar negeri. Orang-orang di desa yang bekerja menjadi TKI di luar negeri, mencari penghidupan di kota, misalnya di Makassar atau Kalimantan, secara psikologi, manusia yang jauh dari pasangannya, beresiko berprilaku buruk seksual.

Bisa dijelaskan contohnya?

Begini, bayangkan ada orang di desa, anggaplah si Kaco misalnya dia bertahun-tahun bekerja di Malasya dan berhubungan seks dengan penjaja seks yang positif terinfeksi HIV AIDS disana. Nah dia akan pulang ke rumahnya membawa virus berbahaya itu dan kemudian berhubungan badan dengan istrinya. Secara otomatis virus itu akan menular kepada istrinya, dan ketika istrinya itu menyusui anaknya otomatis pula anaknya itu akan terjangkit.  Oleh karenanya identifikasi masalahnya harus jauh ke belakang. Kita bisa harus bicara pencegahan, karena penanggulangan dan penanganan sudah dikerjakan oleh leading sector lain, misalnya dinas kesehatan. inilah selama ini yang luput dilacak oleh para penggiat HIV AIDS.

Langkah konkret apa yang dilakukan oleh KPA AIDS Polman terhadap hal itu, terutama yang dibreak down dalam bentuk program?

Program yang kami usulkan, seperti biasa adalah pelatihan-pelatihan dan kampanye tentang bahaya HIV AIDS. Namun tidaklah sesederhana itu, kami di KPA Polman  akan mencoba mendorong suatu paradigma baru.  Kedepan dalam rakor (rapat kordinasi-red) itu kami akan mencoba melempar wacana bagaimana penyeragaman paradigma dan penanganannya, bersama seluruh stake holder, terutama leading sector terkait.

Paradigma dan penanganan apa yang saudara maksud?

Dalam Rakor itu, kami akan melempar wacana soal bagaimana melakukan penyeragaman paradigma atau cara pandang soal HIV/AIDS dan penangannya di Polman,  Sebelum Polman betul-betul ditemukan data tentang penderita HIV AIDS. Jadi, kita harus menyusun cara pandang yang sama terutama, cara pandang bahwa sebab-sebab terhadap kelompok yang paling rentan, seluruh masyarakat yang berada di usia 10-50 tahun. Mobilitas penduduk, karena tingkat ketidak seimbangan lapangan kerja dan angkatan Kerja mengakibatkan masyarakat desa, yang ingin hidup survive, mengambil keputusan untuk bekerja di luar negeri dan di kota-kota besar di Indonesia. Ini yang saya bilang tadi, mereka ini adalah kelompok yang paling rentan, karena rata-rata jauh dari pasangannya. Apakah itu perempuan atau laki-laki.

Bagaimana respon Pemkab Polman, terutama Bupati?

Yang jelas, Pemkab Polman punya  keseriusan untuk menangani HIV AIDS di Polman. Saya berbicara langsung dengan Bupati, dan beliau menegaskan kepada saya sebagai penanggung jawab pengelola KPA AIDS,  bahwa tidak boleh ada ODHA di Kabupaten Polewali Mandar. Ini bukan sesuatu yang bisa dihindari, tetapi perlu kerja keras, Saya ingin menyampaikan di Rakor nanti, terutama leading sector terkait, bahwa kehadiran KPA AIDS Polman, bukan sekedar menggugurkan kewajiban Pemkab Polman untuk membentuk Komisi Penanggulangan AIDS sesuai yang diamanatkan Undang-undang, tetapi betul-betul dibentuk dalam rangka pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS yang setiap saat bisa merenggut kemerdekaan dan hidup warga.

Hari ini adalah momentum peringatan Hari AIDS Sedunia, apa pesan yang ingin anda sampaikan ?

Ya, singkat saja, yang ingin saya sampaikan hanya satu, "setia terhadap pasangan anda. Itu saja".
 
Tag : polman
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : MUHAMMAD ARIF

Selain aktif sebagai awak redaksi SulbarDOTcom, alumni Komunikasi Fisip dan Ketua Umum UKM Persma Radikal Unasman tahun 2014 ini juga mantan aktivis PMII dan dipercaya sebagai Wakil Ketua GP Ansor Polman
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 524,313

web server monitoring service RSS