Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Na tama di Balanipa, maindang kedo puang, naupokedoi naung molimbo limbo"
Saya akan ke Balanipa, meminjam/memeperhatikan tegur sapa yang sopan, gerak langkah yang santun, demi kucontohi, kuikuti untuk menghadiri acara-acara resmi
CERPEN
Dering
SulbarDOTcom - Dering


 Penulis
: NIKEN BORORESMI
 Sabtu, 29 April 2017 19:15:06  | Dibaca : 150 kali
 
Sulbar.com - "Hahaha... iya memang lucu". Ia tertawa tanpa henti setelah kuceritakan sebuah kisah cinta seorang gelandangan dipinggir jalan raya. Kisah cinta yang tak akan mungkin sepenuhnya dapat dimengerti oleh Nhery, wanita idamanku dulu. Dulu hingga yang tak masuk dalam kalender masehi. Huft, sebenarnya semua cerita yang kuceritakan pada Nhery hanyalah cerita semu yang berbaur dengan bualan untuk sekedar melihat torehan senyum manisnya.

Sama seperti aku yang juga hanyalah cerita semu pula dalam cerita hidupnya. Meski aku tak pernah dianggap, dirasakan. Atau lebih tepatnya, serupa butiran debu yang siap dihembuskan kapan saja oleh angin. Aku tak banyak berharap dari torehan senyumnya kala itu. Karena aku hanyalah lelaki kucel diantara rimbunan perjaka-perjaka yang lain. Ia mengetahui namaku saja sudah membuat diriku ini merasa dihormati. Tak lebih.

Bahkan, hari-hari yang dilalui adalah apa yang pernah dilalui oleh setiap pecinta dalam imajinasinya. Dan aku adalah salah satu dari mereka, pecinta yang hanya dapat mencintai dibalik tirai jingga dan berbisik disetiap hembusan nafas. Berharap ia dapat sekedar merasai. Kan kubiarkan setiap detak jantung ini memacu hanya untuk dirinya dan dirinya.

Hanya saja, sudah lama aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Hahaha.... sehari saja tak kulihat torehan senyum itu, sudah kucaci waktu yang tak kumanfaatkan. Entah bagaimana lagi akhir dari cerita semu ini, jika aku takkan pernah lagi melihat torehan senyumnya itu. Namun sesuatu telah terjadi pada Nhery. Usut punya usut dari sumber yang terpercaya, kupahami betul mengapa itu terjadi dan letak penyesalan pada diri Nhery. Ia hamil. Lantas siapa yang tak menggelengkan kepalanya melihat hal buruk juga terjadi padaku, sang pecinta dalam lingkup imajinasi.

"Bagaimana mungkin kau masih bisa mempercayai dan memujinya seolah tak ada makhluk indah lainnya yang bisa kau lirik. Hei kawan, lihatlah keelokan dari Destiny, Angel, apalagi Aisyah. Wouw.... sudah baik budi pekerti, ayu pula, plus bibir merah merona," sanggah temanku melihat ketololanku.

Aku setengah senyum menatapnya. Dia pun bingung dan pergi meninggalkanku dengan dongkol sebab tak berhasil menggiringku keluar dari ruang imajinasiku sendiri tentang Nhery. Aku tak mengumpat atas perbuatannya, sebab sudah semestinya ia berlaku demikian karena ia perduli padaku namun tak perduli imajinasiku.

Aku adalah aku dan takkan berubah menjadi bentuk dari keinginan mereka. Bukannya aku tuli maupun benci atas tindakan mereka yang seolah-olah aku dan duniaku tak perlu diurusi seperti itu. Andaikan saja mereka sesekali mendengarkan apa yang akan kukatakan dari imajinasi ini, mungkin mereka akan faham dan membiarkan diriku tetap seperti ini.

Nhery hamil. Bukanlah suatu aib yang mesti dijadikan alasan untuk meninggalkannya sendiri. Apalagi mencacinya seolah dia adalah makhuk yang paling kotor di mata mereka. Aku tahu, Nhery pasti memiliki alasan khusus sehingga ia lupa akan harga dirinya. Aku juga tahu, Nhery pastilah mengerti posisinya saat ini dan pastinya menyesal. Dan aku ingin tahu alasan Nhery sehingga mampu berbuat sedemikian rupa. Aku ingin tahu.

"Kau tahulah Zul. Mengapa aku dapat melakukan semua ini bahkan setelah apa yang kulakukan, berhubungan intim dengannya hingga hamil. Aku tak merasa bersalah, hina, ataupun benci terhadap cacian mereka. Mereka berhak menilaiku, kehidupanku, gayaku, polesanku. Namun, perlu kutekankan bahwa, aku tak pernah meminta mereka menjadi juri dikehidupanku," bebernya padaku.

Aku mendengar dengan teliti dan kuresapi tiap kata yang dia ucap. "Benar juga," gumamku. "Tapi mengapa ia rela ?," batinku bertanya.  

"Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja. Aku tahu Zul, kau pasti menyimpan bermacam-macam pertanyaan. Tanyakan saja padaku, aku akan menjawabnya. Jangan merasa aku akan tersinggung dengan pertanyaanmu," katanya.

"Akh... kau memang dari dulu mengenal sifatku. Tahu saja kau kalau aku ingin tahu apa yang telah terjadi pada dirimu. Begini. Kau pasti tahu akibat dari perbuatanmu. Kau pasti tahu, aku yakin itu. Tapi mengapa masih saja kau diam?," tanyaku.

"Hehe...," cengirnya. "Aku tak diam zul. Jika aku diam maka orang-orang disana pasti akan tetap menilaiku seperti biasa, tak ada perubahan. Karena aku hanya bergeser dari tempatku dan kembali diam. Tapi, jika kuteruskan maka aku telah berlari jauh meninggalkan Nhery yang mereka kenal. Dengan melakukan hal ini aku telah berpindah Zul. Entah otakku yang pindah kedengkul, kegilaanku yang pindah menjadi keegoisan, ratapanku yang pindah keimpian tetangga. Hahaha....," jelasnya sembari tertawa renyah. Renyah sekali.

"Bukan berarti aku tak perduli pada rasa simpatik mereka padaku," lanjutnya lagi.
"Mereka simpatik karena ketololanku yang telah memberikan keperawananku pada Fajri. Tidak. Sedikitpun aku tidak tolol ataupun menyesal. Sebab hidup baru saja dimulai Zul. Aku suka kehidupan baru ini. Bukan berarti pula aku tak sayang diriku dengan membiarkan harga diriku dibawa oleh omongan mereka. Justru sekarang aku berada dipuncak kebahagiaan sekarang Zul. Kau pasti penasaran dengan apa yang kurasakan saat ini. Akh.. terlalu sulit kuuraikan perasaan ini, perasaan dimana aku terjatuh kemarin kemudian tanpa aku sadari aku baik-baik saja sekarang," jelasnya.

"Biarkan saja aku dikatakan pelacur, tak tahu diri, wanita kotor, biarkan saja. Tak sadarkah mereka, masih banyak anak-anak gadis di luar sana berseliweran dengan batas sewajarnya tanpa diketahui orang tua mereka sebab sudah merasa kenal dunia, dan akhirnya mereka mulai luntur. Mengenakan penutup kepala, namun masih menampakkan lekukan tubuhnya. Apalagi ditambah dengan polesan lipstik merah merona, bedak anti hujan, kemudian diam-diam main tangan dan kata-kata kasar terutama gosipnya," jelasnya padaku.  

"Aku sudah mengetahui kesalahanku dan semestinya aku malu atas kesalahan ini, namun aku justru sadar Zul, bahwa mereka yang diluar sanalah yang semestinya sadar kesalahan mereka. Bukan berarti pula aku tak salah atas tindakan tragis ini, aku juga telah mengetahui segala tindakanku ini Zul. Aku tahu, jauh sebelum matahari itu menyingsing dan tenggelam. Bahkan mungkin jauh sebelum Sitti Nurbaya dijodohkan, aku tahu Zul, aku tahu. Hanya saja, kau juga pasti tahu diriku bahwa semakin aku mengetahui hal itu semakin pula aku mengacuhkannya dan tanpa aku sadari aku makin mendekati hal itu. Yup, aku terjatuh. Menangis kemudian tertawa. Menangis, tertawa lagi. Tertawa, menangis lagi," katanya memberiku penjelasan panjang lebar.

Aku hanya mengangguk-angguk tanpa paham sedikitpun arah dan maksud pembicaraan Nhery. Lama aku terdiam, coba resapi setiap kata yang ia ucap. Namun nihil, fikiranku buntu.

"Sudahlah Zul. Kau juga takkan mengerti apa mauku terhadap hidupku sendiri. Apakah mungkin Zul ini hanyalah tindakan atas kekecewaanku karena dilampau usia yang terlalu matang?. Tapi satu hal yang aku saluti dari mereka. Iya, para wanita yang dipanggil dan kemudian dibayar itu. Kok bisanya mereka setegar itu?. Tapi setidaknya mereka lebih bernilai dibanding diriku yang bahkan tak dapat apa-apa dari Fajri. Menikahiku pun tidak, bahkan sekarang batang hidungnya pun tak pernah lagi tampak. Wanita itu tetap dicaci, dimaki, seolah sangat kotor. Tak tahukah mulut-mulut itulah yang lebih kotor karena terlalu menganggap kotor yang dipandangnya. Heran aku Zul, bagaimana mereka sebegitu lihainya menilai wanita. Apa mereka pernah berada di posisi wanita?. Apa mereka pernah mengetahui apa alasannya?. Apa mereka tahu bahwa mereka mencela namun tetap juga menikmati tubuh wanita?. Mereka juga wanita sama seperti diriku. Hanya saja mereka wanita yang tangguh dan aku lebih takjub lagi saat bibir-bibir itu menghujat namun wanita itu tetap berhajat. Pasti menorehkan kepekaan yang seharusnya dirasa," ucapnya mulai simpati.

"Lah kok aku sedih ... lah kok nangis. Padahal tadi aku mau cerita tentang diriku. Kok malah pindah topik," ucapnya sembari menyapu kedua bola matanya yang mulai basah.  

"Ya sudahlah ... Kau juga sepertinya tak faham tentang alur ceritaku Zul. Alur ceritaku terlalu semu untuk difahami. Kau pulanglah," ungkapnya sembari berdiri.

"Oh ya Zul, aku hanya ingin memberitahumu. Bagaimana bisa kaum lelaki selalu menuntut kesucian dari pihak perempuan, bila sebaliknya mereka juga sudah tak perjaka. Heh, itu kan tidak adil namanya Zul. Kalian ingin memulainya dengan kesucian namun kalian sendiri tak suci. Munafik Zul, munafik," ungkapnya kesal.
 
"Untung saja tak semua lelaki seperti itu Zul. Untung saja haha...," ia kembali tertawa dan berbalik meninggalkanku.

Aku masih duduk terdiam ditempatku tanpa berkutik. Begitukah penilaian orang atas hal yang mereka fahami. Apa mungkin mereka menilai hanya dari sudut pandang mereka sendiri tanpa menggunakan kaca mata untuk lebih jelas melihat hal yang sesungguhnya. Aku memang mendengar alasan Nhery, namun aku tak faham. Kemudian saat aku ingin berajak pergi. Penglihatanku serasa buram dan kepalaku pening. Aku pusing dengan cerita semu ini dengan pecinta diruang imajinasiku ini. Dan kekagumanku pada sosok Nhery semakin bertambah. Aku ambruk dan akh malunya aku saat tak sadarkan diri.

Dan...

"Brukk... " Wajahku mendarat terlebih dahulu dilantai hingga menyebabkan diriku tersadar dan menimbulkan suara yang cukup keras.

"Akh,  ternyata mimpi,".
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : NIKEN BORORESMI

Penulis yang dikenal blak-blakan ini kini aktif sebagai redaktur disalah satu koran harian yang terbit di Sulbar. Selain berprinsip menulis dan membaca adalah suatu kewajiban dirinya juga kini kini bersetia hidup sebagai perempuan yang merindu

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
    Catatan :
No Ads, No Spam, No Flood please !
Mohon tidak menulis iklan, spamming dan sejenisnya.
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 599,283

web server monitoring service RSS